SURGA itu seperti Perpustakaan yang sangat besar.

HP 081265748769

HP 081265748769

2.12.14

Madzhab Ahlul Bait a.s. Madzhab Ja’fari

Madzhab Ahlul Bait a.s.

Madzhab Ja’fari
Tak diragukan bahwa untuk mendukung upaya mengungkap kemajuan sebuah cabang ilmu, langkah yang harus dilakukan adalah melakukan studi terhadap karya-karya yang diwariskan oleh para ilmuan yang terkait dengan ilmu tersebut. Hal yang sama juga berlaku pada pengenalan ilmu fiqh. Mengingat urgensi masalah ini kami akan mengulas sedikit tentang sejarah dan kelebihan fiqh Ahlul Bait as atau yang dikenal pula dengan nama madzhab Ja’fari.

Pertama-tama ada baiknya kita mengenal terlebih dahulu beberapa istilah;
1-       Fiqh; fiqh secara bahasa berarti pemahaman yang detail dalam sebuah perkara. Sedangkan dalam istilah, fiqh bermakna pemahaman hukum syariat melalui dalil-dalil rincinya.
2-       Faqih; faqih adalah orang yang menguasai hukum-hukum syariat dengan dalil-dalilnya. Pijakan dalil hukum syariat menurut fiqh Jafari adalah Kitab, Sunnah, Ijma’ dan Akal.
3-       Kitab; yang dimaksudkan dengan kitab adalah kitab suci al-Qur’an yang merupakan wahyu ilahi yang diturunkan kepada Nabi Besar Muhammad SAW.
4-       Sunnah; yang dimaksudkan dengan sunnah adalah perkataan, perilaku dan pengakuan (taqrir) Nabi SAW dan 12 imam maksum as.
5-       Ijma’; ijma’ adalah kesepakatan pendapat para faqih. Kesepakatan itu menjadi sumber syariat karena mewakili pula pandangan imam maksum. Salah satu syarat ijma’ adalah tidak adanya nash dan ayat yang dapat dijadikan sandaran bagi hukum pada kasus tertentu.
6-       Akal; yang dimaksudkan dengan akal adalah hukum aqli atau logis yang bisa mengantarkan kita kepada hukum syariat.

Ciri Khas Fiqh Ja’fari (Syiah Imamiyah)
1-       Seluruh ulama Syiah meyakini bahwa sunnah para imam adalah kelanjutan dari sunnah dan ajaran Nabi SAW. Karena itu sunnah para imam, baik perkataan, perilaku atau taqrir, merupakan salah satu sumber bagi syariat. Sementara sebagian besar ulama Ahlussunnah meyakini bahwa yang menjadi pelanjut dari sunnah Nabi adalah sunnah para sahabat.
2-       Menurut mayoritas ulama Syiah, akal adalah salah satu sumber rujukan dalam istinbath hukum. Berbeda dengan kebanyakan ulama Sunni yang menolak hujjiyah bagi akal.
3-       Berkenaan dengan khabar wahid, sebagian ulama Syiah meyakininya sebagai sumber rujukan hukum, mereka antara lain adalah Syekh Thusi, sementara tidak sedikit ulama yang menolaknya, termasuk di antaranya Syekh Mufid, Sayid Mortadha, Muhammad bin Idris penulis kitab al-Sarair, Abul Makarim yang dikenal dengan sebutan Ibnu Zuhrah dan para ulama dari negeri Halab. Di kalangan Ahlussunnah wal Jamaah, mayoritas ulama menentangnya. Sedangkan yang menerima hanya sebagian kecil semisal Imam Ghazali.
4-       Sumber rujukan fiqh Syiah ada empat yaitu, Al-Qur’an, Sunnah, Ijma’ dan Akal. Sedangkan bagi Ahlusunnah, sumber rujukan hukum adalah al-Qur’an, Sunnah Nabawi, mashalih mursalah, istihsan dan sadd al-dharai’.