SURGA itu seperti Perpustakaan yang sangat besar.

HP 081265748769

HP 081265748769

2.12.14

MENGUAK FENOMENA GUNDAH GULANA DIRI

Ada satu pepatah yang disepakati oleh berbagai agama dan aliran kepercayaan di luar agama formal, bahwa dunia adalah tempat perlintasan sementara. Atau dengan kata lain, dunia adalah sebuah gubuk sederhana yang menjadi tempat singgah seorang pengelana. Di katakan demikian karena dunia berdasarkan asal kata bahasa arabnya berasal dari kata dani yang berarti rendah. Alam dunia punya maksud, alam yang rendah.
Di dunia dengan mudahnya segala sesuatu yang bernyawa pasti akan mati. Segala yang tumbuh akan tua, yang tadinya kaya kemungkinan besar akan mengalami fase hidup yang miskin. Intinya, mengutip salah satu lirik lagu peterpan, di dunia ini tidak ada yang abadi. Semua akan sirna, dikembalikan ke pemiliknya.
Tapi barangkali manusia sekarang sedang dalam keadaan mabuk. Garis alam di atas dimengerti tapi tidak dihayati. Pengetahuan tentang keabadian ini di simpan dalam folder yang jarang atau bahkan tidak di buka dalam hardisk jiwa. Dalam relung jiwa kita yang paling dalam, kita tahu bahwa kebenaran tentang yang abadi adalah sesuatu yang tidak dapat dibantah. Dan semua orang pun mengangguk sama-sama dalam diam.
Hidup yang seharusnya tempat untuk menyemai dialihfungsikan menjadi lahan untuk tetap ‘ada’ di sini dan ‘selamanya’. Kepemilikan menjadi satu-satunya tolok ukur keberadaan dan surat identitas yang diakui bersama di semua tempat. Anda akan ditertawai jiwa masuk restoran mewah hanya dengan pakai sandal jepit dan baju compang camping. Anda juga tidak akan diterima dengan tangan terbuka sebagai seorang sahabat karena ketidakmampuan mengikuti trend yang berkembang semakin menggila akibat kebohongan televisi. Intinya Anda harus punya sesuatu supaya bisa diakui.
Mengetahui hal ini, manusia berusaha sekuat tenaga untuk mengumpulkan anasir-anasir kegemerlapan dunia. Peduli setan dengan orang lain, yang penting hidup sendiri tidak terganggu. Berbagai kebohongan dilakukan supaya menyenangkan orang lain, padahal dalam salah satu hadisnya, rasulullah berkata dengan amat kerasnya ketika suatu saat ditanya, mungkinkah seorang muslim berbohong? Manusia mulia itu menjawab, ‘Orang muslim mungkin saja membunuh dan mengambil hak orang lain, tapi seorang mukmin tidak akan pernah berbohong’. Berbohong berarti meruntuhkan kepercayaan. Jika pondasi kepercayaan sudah runtuh, maka kehidupan yang dijalani adalah kepura-puraan.
Manusia yang demikian obsesif dengan kepemilikan tak syak lagi menjalani hidup ini dengan demikian seriusnya. Bahkan terlalu serius sehingga jika saja manusia yang hidup seabad yang lalu dihidupkan, mereka pasti tidak mengerti dan bingung dengan laku manusia pada zaman ini. Hidup sejahtera bukanlah bisa makan hari ini, dikaruniai kesehatan yang prima dan punya hubungan sosial yang baik. Tapi hidup yang sejahtera adalah seberapa besar jumlah tabungan di bank. Seberapa banyak jumlah Audi dan BMW yang diparkir di garasi dan seberapa banyak manusia yang datang menyemut untuk sekedar memuji supaya mendapat remah-remah rupiah.
Anehnya, dalam keberlimpahan materi ini manusia gundah gulana. Dimanakah keceriaan hidup pada waktu mereka kanak-kanak. Kemanakah larinya hati yang damai karena pikiran yang tenang beberapa tahun yang silam. Ya, intinya, mengikuti perkataan para filosuf postmodernisme, manusia pada zaman sekarang mengalami alienasi pada dirinya sendiri. Alienasi pada dirinya sendiri ini bisa dijelaskan dengan kalimat, manusia tidak tahu apa yang diinginkan oleh jiwanya. Semua gerak dilakukan untuk memenuhi tuntutan identitas sosiologis.