SURGA itu seperti Perpustakaan yang sangat besar.

HP 081265748769

HP 081265748769

19.3.12

Strategi Pemasaran Buku-Bagaimana Caranya

sumber: http://media.kompasiana.com/buku/2011/01/19/strategi-pemasaran-buku/

Kebahagiaan menjadi penulis buku telah kita miliki. Kini buku telah berada dalam genggaman. Kita telah menghasilkan tiga produk buku: fiksi, nonfiksi, dan buku teks. Lalu, bagaimanakah langkah kita selanjutnya? Cukupkah kita berbangga dengan kumpulan kertas bertulis itu? Tentu saja tidak. Kita harus memasarkan buku-buku itu. Buku-buku itu harus dibaca, dimiliki, dan dibeli orang lain. Cukuplah kita menyimpan 5 buah untuk setiap jenisnya. Tentu itu bertujuan untuk koleksi perpustakaan dan dokumentasi pribadi. Lalu, bagaimanakah strategi pemasaran buku?

Menurutku, ada tujuh strategi pemasaran buku. Ketujuh strategi itu adalah memanfaatkan media elektronik, memasang iklan, mengadakan bedah buku, menggelar konferensi pers, mengadakan komunikasi dengan resensator, memanfaatkan kolega, dan memanfaatkan kesempatan.

Memanfaatkan Media Elektronik

Media elektronik adalah media yang menggunakan kelistrikan melalui pemanfaatan gelombang atau frekuensi tertentu. Artinya, media elektronik dapat meliputi televise, radio, internet, dan email. Strategi pemasaran buku dapat menggunakan semua jenis itu. Pemanfaatan televise dan radio dilakukan dengan pemberitahuan tentang produk kita. Pada kesempatan tertentu, televise dan radio kadang membutuhkan buku-buku tertentu sebagai referensi acara. Kita tidak perlu malu untuk berkunjung ke studio. Kita tidak bermaksud mencuri. Justru kita bertujuan membantunya. Lalu, tunjukkan karya-karya kita. Biasanya mereka menyambut hangat kedatangan kita.

Melalui internet, kita dapat memasarkan buku-buku itu melalui blog pribadi dan atau keroyokan, seperti di sini: kompasiana. Menurutku, admin kompasiana mengizinkan kita selagi memang itu buku yang ditulis kita sendiri. Artinya, kita tidak menjual produk orang lain. Bahkan, menurutku, admin akan merasa bangga karena salah satu anggota keluarganya mampu menulis buku.

Aku pun melakukan hal yang sama. Aku sering memamerkan buku-buku yan kutulis itu. Tentu saja aku bertujuan untuk memotivasi dan menginspirasi pembaca, terkhusus kompasianer. Jadi, aku tidak bermaksud pamer. Semua itu semata-semata bertujuan untuk menunjukkan bahwa kita tidak hanya pandai berteori, bertutur kata. Namun, kita benar-benar telah berkarya nyata.

Memasang Iklan

Strategi ini juga aku lakukan. Aku memasang iklan untuk beragam kegiatan. Ketika anak-anak kampungku ingin mengikuti kompetisi sepakbola, aku menyediakan 18 seragam bergambar bukuku. Lalu, penerbitku pun memasang iklan di beberapa tempat, semisal kalender, blog, seminar dan lain-lain. Iklan memang menjadi pilihan bijak. Dengan beriklan, kita akan memperoleh keuntungan. Memang kita harus keluar biaya untuk itu. Namun, itu pun akan terbalas dengan laju penjualan buku-buku kita.

Mengadakan Bedah Buku

1295394650281309754

Setiap kesempatan harus dimanfaatkan untuk memasarkan buku.

Beberapa waktu lalu, penerbitku mengadakan bedah buku dan pemberian penghargaan bagi tokoh pendidikan di daerahku. Kita mengundang banyak kalangan, baik itu tokoh pendidikan maupun birokrat. Alhamdulillah, acara itu terlaksana lancer. Pada kesempatan yang sama, aku memamerkan produk-produk itu. Ternyata, mereka – para tamu – menyambut antusias buku-bukuku. Bahkan, mereka tak pernah mengira bahwa aku dapat menulis buku sebanyak ini.

Gayung pun bersambut. Mereka berkeinginan untuk menggunakan buku-buku itu di daerahnya. Tentu saja aku menyambut keinginan itu dengan senang hati. Asalkan kita santun bersikap dan gemar berbagi, mereka welcome saja. Bahkan, aku sering diundang untuk dikenalkan dengan guru-guru di daerahnya.

Mengadakan Jumpa Pers

Ketika buku sudah terbit, aku mengundang rekan-rekan jurnalis atau wartawan. Aku mengadakan jumpa pers. Kita harus memahami peran dan peranan media massa. Mereka mempunyai posisi strategis untuk pemasaran produk. Jadi, kita harus memanfaatkan posisi itu.

Memang kita harus mengeluarkan biaya lebih. Namun, yakinlah bahwa itu akan kembali menjadi keuntungan secara berlipat. Karya-karya itu akan diliput, diekspos, dan dikenalkan kepada masyarakat luas. Maka, tak heran jika aku sering diundang pembaca dari penjuru daerah. Semua disebabkan jasa rekan-rekan wartawan.

Mengadakan Komunikasi dengan Resensator

Resensator adalah orang yang gemar meresensi buku dan atau produk lain. Mereka akan menilai kelayakan buku-buku kita. Penilaian itu selalu berimbang dengan menunjukkan kelebihan (keunggulan) dan kekurangan (kelemahan) buku itu. Namun, keunggulan sering ditonjolkan daripada kelemahannya.

Tidak sulit kita menemukan resensator. Cukup kita membaca resensi buku setiap edisi minggu di koran cetak. Lalu, kita menghubungi redaksi untuk menanyakan alamatnya. Biasanya redaksi tidak keberatan member alamat resensator.

Jika sudah bertemu dengan resensator, silakan “titip pesan”. Maksudnya, buku-buku kita supaya dikupas dari sisi positifnya. Lalu, kita pun hendaknya gemar memberi. Selain member buku-buku yang akan diresensi, hendaknya kita memberikan uang sekadar untuk membeli teman membaca buku itu. Yakinlah itu akan kembali.

Memanfaatkan Kolega

Kita tentu mempunyai profesi tertentu. Di lingkungan kerja kita, tentu ada pimpinan atau orang yang berpengaruh. Maka, manfaatkanlah mereka untuk mengenalkan buku-buku itu. Mereka pasti menyambut positif keinginan kita itu.

Aku pun sering memanfaatkan kolega. Itu tidak salah. Kita adalah penulisnya. Jadi, kita pasti menjadi orang yang paling tahu kelebihan isi buku itu. Setiap berkunjung ke suatu daerah, aku selalu menyempatkan diri untuk bertemu pimpinan instansi. Maka, wajar-wajar saja jika aku mempunyai banyak kolega. Mereka sebenarnya juga memerlukan kita. Hanya saja, mereka belum mengenal kita.

Memanfaatkan Kesempatan

Jika sudah menjadi penulis buku, kita akan sering diundang oleh penggemar dan pembaca buku kita. Ringanlah kaki dan gemarlah member. Ketika menjadi pembicara itulah, hendaknya kita memanfaatkan kesempatan untuk menunjukkan kelebihan karya-karya kita. Tidak perlu malu.

Aku pun teramat gemar memamerkan buku-buku itu. Mereka senang sekali karena mereka bertemu langsung dengan penulisnya. Jadi, memanfaatkan kesempatan itu baik-baik saja. Selagi caranya arif dan tetap berkoridor kesantunan, semua boleh dilakukan.

Begitulah para sahabat. Sekadar berbagi kisah tentang perjalanan kepenulisanku. Jadi, hendaknya kita tidak hanya mengandalkan penjualan para sales atau retail. Itu akan berlangsung lama dan hasilnya tidak menggembirakan. Semoga kisah ini bermanfaat. Amin.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar